Sempat kaget dan berpikir lama setelah seseorang menanyai aku tentang cita-cita aku. Bukan karena aku tidak bisa menjawabnya, tapi aku bingung sendiri sebenarnya apa sih cita-citaku. Mungkin akan beda jika yang ditanya aku saat umurku baru 8 tahun, pasti akan aku jawab dengan mudah dan lantang, “ Aku ingin jadi guru, aku inginn jadi dokter, aku ingin jadi pilot, dll”.
Tanpa harus berpikir lama karena aku tau aku masih kecil and bisa tumbuh seperti yang aku inginkan. Tapi disaat aku ditanya dengan umurku yang sekarang, jelas aku bingung harus jawab apa. Sebab semua kemungkinan itu seperti hampa dan tidak ada dipikiran, mengingat aku sudah bisa dikatakan dewasa, dalam artian sudah berkepala dua. Emang aku bisa jadi apalagi selain yang aku lakukan sekarang.
Dengan jawaban sedikit ragu aku menjawab pertanyaan seseorang padaku tentang cita-citaku. Aku tau cita-cita yang dimaksud bukan seperti cita-cita yang dikatakan anak-anak kecil, tapi cita-cita disini justru lebih mengarah ke tujuan kedepan atau arah hidupku. Aku yang sejak semula kehilangan arah tidak tau harus jawab apa, sebab yang aku tau cita-citaku hanya ada di masa lalu. Masa lalu yang penuh impian dan imajinasi yang tak terbatas.
Gimana tidak, dimulai dari SD aku sangat terobsesi ingin jadi guru, karena aku sadar Allah memberiku kelebihan keuletan dan kecerdasan yang sedikit mengungguli teman sekelasku. Teman-temanku pintar karena buku dan belajar, jauh berbeda dengan aku, aku lebih suka komik daripada buku pelajaran. Tapi Alhamdulillah aku selalu peringkat 5 besar mulai dari kelas 3 s/d 6. Bahakan aku juga pernah juara pertama walau cuma 3 kali dalam satu tahun ajaran. Tapi cita-citaku berubah disaat SMP, aku sangat ingin menjadi pemain sepakbola professional dan kemudian hancur setelah harus rehat 2 tahun karena penyakit tipes.
Justru di SMK aku sudah embuang cita-cita aku, yang aku inginkan hanyalah lulus dari sekolah dan bekerja untuk bantu orang tua yang sudah terlalu lelah menghidupi aku yang selalu merepotkan ini. Dan aku putuskan cita-cita aku adalah cita-cita orang tuaku. Dan dengan bangga aku jawab pertanyaan seseorang tersebut bahwa cita-citaku tinggal 1, yaitu memberangkatkan Haji kedua orang tuaku. Justru setelah aku menceritakan pada Bapakku malah dibantah. Dia menghargai niat aku tersebut tapi alangkah baiknya hidup harus ada tujuan, bukan untuk orang lain melainkan demi diri sendiri. Karena hidup tanpa adanya tujuan tidak aka nada gairah hidup yang sama artinya dengan mati.
Dengan adanya tujuan itulah membuat hidup kita lebih baik, tak mungkin orang berkeinginan untuk menjadi lebih buruk. Kalaupun cita-cita atau arah hidup berubah itu adalah hal yang wajar. Tidak mungkin kita terus terhanyut terus menerus dalam mimpi masa kecil yang bahagia denagn segala cita-cita yang ada.
Terkadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada yang salah dengan cita-cita, cita-cita akan selalu ada dan berubah-ubah selama keinginan masih ada. Dan aku sadar, aku masih punya banyak cita-cita, selagi aku masih mempunyai keinginan tak ada salahnya untuk berharap dan menggapainya.
“Don’t despair and never loose hope, coz Allah is always by yourside. Insya Allah you’ll find your way” (Maher Zain: Insya Allah)
Semoga Bermanfaat.




0 komentar:
Post a Comment